Friday, 30 December 2011

Akhir Tahun


Memaknai hari-hari yang lewat menjadi suatu perenungan seperti kembali melihat banyak celah dan salah, tak jarang beberapa kejadian membuat ingatan menjadi campur baur atau kabur. 

Kendatipun demikian, kehidupan adalah pemenangnya dan kita adalah sang pecundangnya. Hasil yang tak memuaskan dan berbagai kekecewaan melintas kembali sebagai pilar yang menghadang, menjadikan keinginan terhambat kembali, atau dendam untuk membalas semua kesalahan dan kekecewaan menjadi sebuah bentuk kepuasan atau kemenangan.

Di masa lalu adalah hal yang pantas untuk diceritakan, di masa depan adalah hal yang memang harus dirancangkan.

Resolusi bukan solusi, tapi bukan juga sesuatu hal yang mesti dihindari. Anggaplah sebagai sebuah pondasi untuk sebuah keinginan yang akan kita jadikan dalam bentuk real

Bila resolusi adalah ketetapan hati, barangkali bisa kita jadikan ia sebagai kebulatan tekad untuk mengambil sebuah sikap di masa mendatang.

"Ya, Allah, ajarlah kami untuk menerima takdir, tetapi tidak berpuas diri menghadapi hal-hal yang dapat diubah."


Wednesday, 21 December 2011

HARMONI ANAK NEGERI 6



Acara tahunan Komunitas Satu Senar “Harmoni Anak Negeri” akhirnya terrealisasi pada tanggl 17 – 18 Desember 2011. Ini adalah Harmoni Anak Negeri yang ke 6. Dilaksanakan di monument Relief Antam Kijang. Setelah sempat tertunda beberapa bulan, akhirnya kami menetapkan pada tanggal 17-18 desember 2011 hari sabtu dan minggu kegiatan musik ini kami selenggarakan.

Sunday, 4 December 2011

04/12/1983 - 04/12/2011 Hari Minggu


Apakah yang dihitung dari perjalanan? Sudah pasti jarak yang ditempuh. Sejauh apapun melangkah hingga berhenti pada suatu titik, nilai yang tertera dari perjalanan itu berupa seonggok kisah cerita dan pengalaman hidup. Memaknai semua yang terjadi dari hal terbesar hingga yang terkecil sekalipun akan terasa mengesankan. Bukankah seribu kilometer perjalanan dimulai dengan satu langkah kecil?

Friday, 2 December 2011

Cerpen : "Guru" Karya Putu Wijaya



Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.


"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!" Taksu mengangguk.

"Betul Pak." Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"


"Ya."

Tuesday, 15 November 2011

Membuka pikiran secara luas dan menyiasatinya secara sederhana.



Ada sebuah pernyataan yaitu Think Globally, Act Locally yang memang memiliki makna mendalam artinya. Kata-kata itu bisa memicu seseorang untuk terus berkarya dan melakukan hal-hal yang mesti ia lakukan. Dalam konsep sederhana, arti dari Think globally, Act Locally dapat diartikan dengan membuka pikiran secara luas dan menyiasatinya secara sederhana.

Thursday, 10 November 2011

Cari Sendiri Pahlawanmu


Waktu ditanya siapa Pahlawanmu? Dengan lugas dan cepat Aldi pasti bilang Spiderman. Kalau Lukas lain lagi, ia fans berat Naruto, setiap hari Lukas akan nongkrongin acara kartun Jepang itu di depan TV. Beda dengan Aldi dan Lukas yang punya pahlawan jago berkelahi, Elvi menjunjung tinggi Upin-Ipin sebagai Pahlawan. Lho kok Animasi semua dan luar negeri semua, ya?

Tuesday, 8 November 2011

Pejalan Lelah


Hari ini Bumi menceritakan banyak cerita. Kekasih yang kecewa. Pejalan yang kelelahan dengan tujuannya sendiri. Penyair yang bosan puisinya dijiplak orang lain. Pemerintah yang selalu mencanangkan program macam-macam namun mendapat respon kecil dari penduduk yang telah banyak kecewa.

Wednesday, 2 November 2011

Hysteria


Selain tulis menulis, nonton bola, baca-baca dan jalan-jalan. Salah satu hobi saya sejak kecil adalah bermain musik. Waktu masih kelas satu SD, saya dibuatkan gitar-gitaran oleh Bapak. Mengapa gitar-gitaran, ya karena itu hanya sebuah gitar kecil dibuat dari papan dan balok kayu, fretnya terbuat dari potongan-potongan besi payung yang sudah tak terpakai lagi, juga tremolonya dari kayu yang didesign sedemikian rupa agar bisa disisipkan tali senar nylon sebagai dawai.

Tuesday, 1 November 2011

Jeda

Hati...
Bertasbih kata yang merindu,
sampai lenyap, sampai senyap.

Nadi...

Berdenyut mengenang kisah tak berjeda,
sampai kalut, sampai surut.

Raga menepi.

Mengingat sesuatu yang lama bersandar dalam jiwa.

Mungkin itu sebuah "CINTA"



Seindah apapun perasaan yang datang terisi, apakah bermakna bila ia tak dibagi?


Kijang Oktober 2011. Saat jeda nonton sepak bola.

Thursday, 27 October 2011

Mat Kodak Club Project (Episode Dua)

Vihara. KM 14. Bintan.
Seakan kau melihat mereka satu persatu, yang mengenali diri mereka sesungguhnya, yang berbicara lantang kepada Dunia. Isyaratmu seolah berkata. Dunia ini hanya sementara.


Bukit Sidodadi. Kijang. Bintan Timur.
Lalu bayanganku menggilas ilalang siang, pada bukit bumi yang tereksploitasi. Belum sembuh luka pada tanah subur yang mendekati hijau pohonku, menangisi selembar daun kering.


Pelabuhan Sribayintan. Kijang. Bintan Timur.
Jarak yang mengakrabi dan menyentak, berbagi alasan untuk pulang. Sebelum galau menutup mata menahan rindu yang berbisik, hentikan sejenak kayuh. Aku ingin berlabuh sebelum jauh.


Kolam Taman Kota Kijang. Bintan Timur.
Seketika kuselipkan tanya pada keheningan terdahulu, berbisik lirih pada keindahan saat ini. Kini tersibak hebat Air dari Bumi dan Langitku. Di Tepian segalanya kan kukenang, seperti MataMu yang menatap menyeluruh.


Patung-patung Di Vihara. KM 14. Bintan.
Menyentuh genangan sakral pada baris-baris orang suci, yang lekat menjadi panjang perjalanan para pencari. Ke waktu-waktu, ke cabang-cabang hidup yang menjadikan berbagai cerita.

Kedai Kopi Hawaii. Kijang.
Menyesap cita rasa yang tercipta untuk nafas dan pilihan, berbagi kisah yang menutup dan membuka mata. Dari secangkir kopi, bermacam ide telah lahir menjadi banyak kreasi.



Photo by  : Muhamad Nasrun
Narasi by  : Denny Hermawan

Seberapa Pantas



Waktu selalu meyakinkan setiap orang akan ketepatan hitungannya, seberapa kapasitas sesuatu atau seseorang menuju ke arah yang dilakukan atau dilewati. Sangat mutlak bila diuraikan per-tiap gerak dan perubahannya. Kita tahu waktu dihitung dengan alat yang bernama jam atawa arloji, pada masa sekarang ini, kita dengan mudah mengira-ngira, menebak seberapa lama, menunggu pas-nya atau malah telah mengetahui pada detak detik keberapa sesuatu hal itu akan terjadi terhadap kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebagai manusia. 

Tuesday, 25 October 2011

Mat Kodak Club Project (Episode Satu)

Tugu Antam. Kijang. Bintan Timur.

Kota ini belum mati. Belum padam lampu-lampu malamnya. Kota ini belum jauh. Masih ingar seringai siangnya.



Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.

Jernih menawarkan satu bayang kanak menyambut malam yang segera menggenangkan selaksa kenangan. Taburan cahaya harapan masa depan datang terhantar oleh pepohonan dan angin malam.




Nirwana Beach. Lagoi. Bintan.

Tak kulihat lagi jelaga malam pada keemasan pagi. Pada tangan yang bergenggaman erat, membangkitkan semangat setinggi tonggak kapal yang terarah pada mentari. Kan kusambut hari sekilau emas hingga nanti.




Bunian Dance (Tari Bunian). Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.

Kudekati langkah pada hentak tari perempuan-perempuan yang menggenggam bunga padi. Mungkin jiwa-jiwa itu terbang, barangkali jiwa-jiwa itu meninggi. Kususuli hasrat hati dengan niat suci. Mengabadikan. Kenangan untuk berbagi.



Makyong Dance (Tari Makyong). Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.
Kehidupan sang penari bahasakan gerak tentang luka, gerak tentang tawa, gerak tentang lucu dan indahnya dunia. Tubuh dan hati akan terus menari, susuri kehidupan yang hakiki.



Batu Licin. Kijang. Bintan Timur.

Bahkan senjapun membelakangimu dengan senyum. Secara terbuka pada tanahmu yang mengering. Sedangkan pada ranting air laut berbisik, langit siap menggigit. Hening, kini tak lagi bising. “Kita belum akan hilang.” Kata ranting kemudian.


Photo by  : Muhamad Nasrun
Narasi by  : Denny Hermawan

Tetaplah hidup agar kita bisa saling memikirkan satu sama lain


Selagi saling memikirkan hanya menjadi satu hal yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Saya akan, saya tetap, saya selalu pasti berpikir perihal tentang kamu. Tentang film-film kesukaanmu, warna-warna favoritmu, pernak-pernik kecil yang menjadi gantungan kunci-kuncimu, sesendok gula yang dituangkan ke dalam kopi saat berada di sebuah kafe yang sekarang tak pernah lagi kita kunjungi bersama, dan buku-buku yang berulang kali kau baca di bangku taman kota.

Wednesday, 19 October 2011

Labirin



Sebut saja sekarang hatiku panas, mengeras pula, walau sudah dahulu, semenjak-semenjak itu.
Gerah mendengar ungkapan kalah, labirin, tak tembus lewat, 


Kapan hatimu pergi
Barangkali hatiku yang terbawa, tersesat di kebun duri, sangkut pada dahan daun beracun.


Ada pagi yang memanggil harap, ada siang yang memangkas jarak, ada malam yang tenggelam dalam keraguan.


Senja terlewat. Di sana tersembunyi rindu, dalam bentuk labirin tak berpintu.


*set us free

Kebahagiaan itu sederhana, tak perlu tanda tanya.




jam 10:58 Oktober 2011 

Sunday, 16 October 2011

Akhiran Yang Sama

Musim panas telah berlalu. Begitu tak menyenangkan dengan hujan yang akan selalu datang. Apalagi kalau hujan itu datang waktu sore. Yang berarti aku akan kehilangan waktu ternikmatku untuk tenggelam dalam buku-buku yang ku baca di bangku taman. Sendiri, bersama angin dan angan-angan.

Aku berharap sore ini hujan tak mencampuri urusanku dengan buku-buku dan angin. Dari kaca jendela kantor mendung terlihat siap. Mungkin hujan akan akrab dengan tanah hingga menjelang malam. Tapi itu baru kemungkinan dan bukan harapanku.


Thursday, 6 October 2011

Jangan Hujan, Gerimis Saja.


Jangan hujan, gerimis saja. Katamu suatu waktu. Hujan tengah akan datang kala itu, udara mulai mendingin, angin telah menyapu memberi penanda untuk semua bersiap menyambut hujan.

Jangan hujan, gerimis saja. Katamu yang masih cemas menunggu. Aku perhatikan gerak matamu, kian lama kian sayu. Entahlah, mungkin sedang  pilu. Atau rindu.

Akhirnya hujan. Aku tersenyum di tengah kulum bibirmu yang manyun. Karena hujan telah datang deras, bukan gerimis seperti yang kau harap-harapkan dan lekas.

Dramatis. Katamu. Namun tak ku sambut dengan kata Romantis, seperti yang ada pada buku. “Ketika hujan dan kamu”. Sebuah kecemasan perihal hujan.

Hatimu rintik gerimis, memasung tangis di kedalamannya, tak ingin hujan, sebab hujan bagimu adalah selaksa cemas.

Hatiku bulir-bulir hujan, menyimpan ketenangan tiap tetesnya, banyak kenangan indah menjurus ke sana, karena hujan bagiku adalah keindahan.

***

Setiap dengar kata “Hujan” selalu muncul di benak saya sebuah tempat. Rumah. Tempat berlindung menghindari air-air dari langit itu. Tempat di mana saya merasa aman. bersidekap dengan kenangan dan macam-macam.


Kata orang, bulan-bulan yang berakhiran “Ber” bulannya Hujan. September, Oktober, November, Desember. Saya berharap kalian tak percaya dengan yang namanya "Kebetulan".

Dan sekarang bulan Oktober. Sepertinya sedang akan hujan. Langit muram. Itu keadaan ketika saya sedang menulis ini. Prosa di atas merupakan proyeksi antara saya dan salah seorang teman, hanya sekedar. Kalau hujan turun saya selalu berharap sedang berada di rumah, menikmati segala rasa dengan cara sendiri.

Suka dan tidaknya kita dengan hujan, kembali pada tiap yang merasakannya. Keadaan akan mempengaruhi akibat dari turunnya hujan, bisa saja salah satu dari kamu akan berucap “The Rain Makes Me Blue” Atau “So Beautiful Rain..” Dan sejenisnya.

Sudah banyak cerita dan mitos tentang Hujan, dan saya tak akan membahas itu. Saat ini saya hanya berharap. Jangan hujan, gerimis saja.



Kijang, oktober 2011, *Ketika tak sedang mengharapkan Hujan.


Photo by Mat Kodak


Friday, 30 September 2011

September (Sebuah Prosa TEntang Mimpi Dan keBERsamaan)



Sewaktu bersandar pada senja, kutebarkan jala dukaku ke lautan matamu. #Neruda
Tak selamanya senja itu indah, secara visual mungkin banyak orang menyukai, bayangkan awan berarak berkejaran pelan, langit berwarna jingga, daun gugur tertiup sepoi angin, dan matahari pelan-pelan turun diiringi kepak sayap burung-burung kembali ke sarang. Perubahan terjadi. Saya menyukai perubahan dan mencintai kenangan. Pada senja yang tak selamanya indah itu, secara diam-diam dalam ingatan, dalam relung palung terjauh degup jantung, ada kenangan yang saya cintai terkunci rapat dan rapi. Mungkin tentang kamu. Barangkali ada baiknya tak mencintai kenangan. Perubahan memang belum tentu menjadikan sesuatu lebih baik, tapi tanpa perubahan tidak akan ada kemajuan. Sedangkan kenangan adalah pintu masa depan.

Penyebab Gemetar




Tanpa disadari semua orang pasti pernah mengalami tubuh yang gemetar, entah karena sedang takut, udara yang dingin atau sakit tertentu. Tapi sebenarnya banyak faktor yang bisa menyebabkan tubuh seseorang menjadi gemetar.

Monday, 26 September 2011

Song "Atas Nama Cinta" ~ Hindra Setya Rini





"Atas Nama Cinta"


Atas nama cinta kusangsikan pemaknaanmu akan sore,
dan lagu-lagu yang kau cipta dalam tidurmu, dan sejuta televisi dalam ingatanmu.
Kau tak pernah mengerti apa aku mengerti.
Kau tak pernah bertanya mengapa aku tak pernah bertanya.

Atas nama cinta hujan yang tebal itu mengikis setiap jejakmu, mengaburkan peristiwa,
menghanyutkan kisah-kisah yang tak pernah jadi kau ceritakan.
Kau tak pernah mengerti apa aku mengerti.
Kau tak pernah bertanya mengapa aku tak pernah bertanya.

Atas nama cinta kuragukan seluruh perkataanmu.
Seharusnya aku memahami bahasa matamu.





[composer: Yennu Ariendra], [vocal: Hindra], [lyric: Andre Andre]

DOWNLOAD

Saturday, 10 September 2011

Ingin Berlabuh Sebelum Jauh

Aku ingin melihat Bulan setiap malam, bahkan ketika awan hitam dan saat Hujan, berpayung dedaunan dan angin melambai. Seketika bukan hanya hendakku yang sementara, bukan pula hanya sebersit menghilangkan sekelumit kisah hidup yang rumit. Aku hanya rindu, aku merasa telah jauh.

Setiap langkah adalah menghindari salah, aku tak ingin kalah, pernah menghindar namun itu yang membuat sadar. Bulan, Bintang, Awan dan apa-apa yang sengit di langit adalah wajahmu. Aku hanya rindu. Rindu yang benci, rindu yang tak pernah bisa bertoleransi.

Ini belum jauh, walau akan. Ini masih bisa, meski siksa.

Lelah. Aku mengumpulkan lelah untuk menjadikannya celah. Agar semua ingar tak lagi terdengar, aku hanya butuh lelah untuk bisa tertidur, pulas, dengan wajah tanpa dosa seperti seorang bayi tertidur dipangkuan Ibu. Menghindari hari-hari rindu, dengan lelah, sampai langit mengalah, memberikan aku rembulan.

Aku ingin melihat Bulan setiap malam. Dengan atau tanpa Hujan. Yang memberikan cahaya elok, yang mengimajinasikan berbagai alasan untuk pulang. Ini hati yang sulit untuk berkongsi, tapi hanya untuk Bulan aku rindu. Ini bukan bualan. 

Malam kian naik pelan-pelan. Lamunku tertuju langit yang menderu, kepak sayap burung malam lenyap, pandangan jauh, emosi merangkak menjadi siksa yang beranak pinak. Di sini, tempat-tempat sepi akrab menari. Jarak selalu mengakrabi dan membuat tersentak, jangan kayuh lagi. Rindu berbisik. Berhentilah peluh. Aku ingin berlabuh sebelum jauh.


Kijang. September 2011

Thursday, 1 September 2011

Walk "Foo Fighters"





Wednesday, 31 August 2011

Agustus



Satu bulan berlalu tanpa cerita yang menghiasi langit-langit hati, seolah semua rasa telah habis terkikis oleh hujaman air hujan dari kelopak mata langit, langit yang tinggi saat kepala menengadah dengan hiasana kemilau silaunya cahaya dari Matahari. Kataku tentang sebuah perjalanan hidup, katamu mengenai pencarian Hati, dan kata mereka yang tak pernah ada yang mau mendengarkan lagi, termasuk Aku dan Engkau. Saya dan Kamu. Kita. Yang telah menjadi masing-masing setiapnya. Yang pernah dan sudah. Yang telah dan kalah. Yang masih menyalahkan sebaris kata “Apabila” “Seandainya” “Jika” serta kalimat-kalimat lain yang selalu memberikan setitik sebuah harapan dan kemungkinan.

Tuesday, 19 July 2011

Selamat Tidur



Beberapa orang mengatakan sedang baik-baik saja, padahal kedip matanya lelah, tak bisa menipu walau senyum menyapu ke seluruh penjuru.

Lalu berjalan terus seolah menjadi kaki penyelamat orang-orang yang tercemar lebih dari dirinya demi memusnahkan tak berdayaan keadaan yang melankolis.

Melihat aneh padanya sama hal dengan bercermin di sekubangan air nan jernih, namun ketika sekelabat hewan air bergerak atau sesuatu jatuh memecah ketenangannya, segalanya bukan hanya saja buyar, namun hancur, menandakan rentannya ia. Seperti itu.  

Di atas kata yang pantas untuk simpati adalah? Mungkin Cinta. Penyebab yang tak bercara dan sulit untuk dibicarakan. Kelu terlalu menyatu bersamaan ego dan hasrat agar terlihat kuat.

Melalui itu semua bagaimana kita bisa menangis di antara jeritan-jeritan yang lebih perih, mungkin lebih baik terlihat angkuh tanpa mengaduh atau berkolaborasi bersama sunyi sampai kedinginan, namun diam-diam membutuhkan perapian untuk sedekap hangat di telapak tangan. Mungkin itu sebuah pilihan.

Ah...
Beberapa orang mengatakan sedang baik-baik saja. Padahal kedip matanya lelah.
Tidurlah...
Aku juga sedang baik-baik saja. Berkedip dengan mata yang ku anggap biasa. 

Selamat Tidur...

Juli 2011

Photo 


Tertarik dengan Iklan di bawah ini? Silahkan klik Gambar untuk info lebih lanjut.
Handy Living CAC1-S4-AAA82 Cabo Living Room Convert-A-Couch Microfiber Sleeper Sofa, Khaki With 2 Decorative Mocha Circles Throw PillowsHandy Living CAC1-S6-HCH87 Cabo Living Room Convert-A-Couch Chenille Sleeper Sofa, Chocolate with 2 Decorative Paisley Throw PillowsFun Furnishings Sofa Sleeper, Green Micro Suede

Friday, 15 July 2011

Selamat Malam



Setiap malam aku mengucapkan selamat malam kepadamu, selepas turun dari angkutan kota yang berjejalan penuh, pada langkah pertama menuruni pintu bus yang berjalan pelan, bersama hentakan kaki kiri yang menginjak bumi dan pada detik berikutnya tanganku merogoh saku celana mengambil ponsel.

Di Kata Dan kelakuan itu

Terlalu lama kita berdiam hingga akhirnya sama-sama lelah. Sesungguhnya kamu bukan sedang mengejar sesuatu, hanya berlusin-lusin keinginan tentang sebuah singgasana dan nama, bukan panggilan Hati. 

Bila ada yang harus di jaga, ialah perkataan. Kesalahan kegunaannya menyebabkan siapapun merasa perih dan sakit, ia bisa menjadi lebih tajam dari pisau yang diasah setiap harinya.

Penggunaanya bukan untuk menjatuhkan, meninabobokkan dengan omongan, menjelma menjadi sesuatu di mana saja tanpa perlu malu dengan sebuah julukan yang aku dan mereka sebut "Penjilat" "Hypocrite

Oportunis dalam arti bagaimanakah sebenarnya yang ada dalam benak itu?

Dalamnya sebuah sumur bisa diukur , jauhnya sebuah tempuhan bisa dihitung, namun, tolong panggilkan aku seseorang yang mampu menjelajahi seberapa dalamnya Hati.

Mungkin kita bukan sama-sama sedang mencari. Tapi merupakan sedang melewati sebuah sesi hidup yang cukup rumit. 

Dan akhirnya...
Pernahkah kita berfikir bahwa waktu akan bertanya dan bukan akan menjawab.



@ juli 2011 my Desk



Saturday, 9 July 2011

Lagu Kedamaian



Menatap hamparan pasir putih sepanjang pantai dan biru laut yang menempiaskan cahaya matahari senja yang jingga, ternyata dapat menetralisirkan perasaan gulana. Sepoi angin menerjang dedaunan gugur dan menerbangkan debu-debu pasir yang terangkat ke udara. Sempurna hamparan langit dan arak-arakan awan warna abu-abu ini, langit seperti meretak dengan gurat-gurat merata yang mengintip di balik awan, burung-burung lalu lalang terbang pulang sebelum malam menjelang. Indah bumi setiap hari bila kau menyadarinya.

Sebentar lagi matahari tenggelam, langit jingga akan berubah menjadi langit hitam dan gemintang kelap-kelip di cakrawala sana, serta jajaran kunang-kunang terbang terhampar di atas pohon-pohon rendah di sekitaran tepian pantai ini. Suara yang terdengar hanya deru ombak yang menggulung dan kecipak air yang menghantam karang. Jauh di sana terlihat sebuah kapal nelayan yang tampak terombang-ambing dari pandangan.

Wednesday, 6 July 2011

Jalaluddin Rumi ~ Penyair dan tokoh sufi terbesar dari Persia



Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya Paduka."
Ia berkata, "Kenapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa." 


Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa-- yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.


œ

Tuesday, 5 July 2011

Suara Dari Langit


Di atas langit. Ada apa disana? Kata ibuku ada Tuhan dan para Malaikat, juga banyak Bidadari-bidadari yang sedang menari. Perihal Bidadari ini ibu sering bercerita, bila pagi dan sore hari para bidadari itu turun ke bumi untuk membersihkan selendang-selendangnya di sebuah sungai yang ada dibalik gunung itu. Di tempat tinggalku tak ada gunung, hanya perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon hutan menghijau sepanjang barisan cakrawala. Tetapi ibuku selalu menunjuk arah perbukitan hijau yang memang bergunung-gunung tersebut bila aku bertanya tentang langit.

Lain cerita ibu, lain pula cerita ayah. Ayah mengatakan bahwa di langit sana ada sebuah kerajaan yang hanya di tinggali makhluk-makhluk suci, setiap hari penghuni langit memberikan makanan kepada penghuni bumi, mereka tak bisa terlihat dengan mata kepala biasa, jika ingin melihatnya, berdoalah setiap hari dengan tulus, memohon kepada sang pencipta, selalu berbuat baik agar kelak bisa bergabung dengan mereka di sana.

Sunday, 3 July 2011

Di sana : Bukan Masa Lalu



Di depan sana ada sebuah jalan, bisa saja jalan itu penuh ruas dan di kelilingi tebing curam. Apakah kita harus berhenti? Atau tetap berjalan namun dengan sedikit hati-hati. Atau menunggu waktu yang tepat untuk melaluinya? 

Masih banyak yang harus kita tuju di depan. Dengan berjalan atau berlari. Dengan tergesa atau perlahan.

Friday, 24 June 2011

Surat Di Gerbang Senja

"Mungkin hanya satu kata bila aku sedang berada di tepian ini. Kenangan. Tak pantas rasanya membenci semua yang pernah terjadi. Daun-daun yang mengering itu kita. Kita yang sudah menjadi sampah, menyatu dengan tanah."

Angin dingin yang pernah kita rasakan bersama, kini sudah kita rasakan masing-masing setiap malam. Aku selalu duduk disini menulis puisi. Dan hanya kepada bintang yang kulihat paling bersinar aku meratap dalam senyap.

Wednesday, 22 June 2011

Spirit


Pelan-pelan peluh yang bercucuran akan tahu kapan memberikan hasil dari jauh jarak yang kita tempuh. Teruslah mengayuh.

Sunday, 19 June 2011

Spasi Sepi

Sebelum bertemu denganmu. Aku tak mengetahui bahwa aku hidup. 
Ada sesuatu yang menghidupkan segala panca indera. 

Terlalu muluk. Kata sepi. Tapi ialah yang paling setia menemani. 
Pada jari-jari yang berlari. Merasuk khusyuk masuk kedalam hati hingga pori-pori.

Kita berjarak. Aku nyata dan kau imajinasi. 
Berkejaran pada tiap kata di antara spasi-spasi.

Sebelum bertemu denganmu. Aku mati. Di antara spasi sepi. 
Dan sisanya adalah imajinasi.


juni 2011

Tuesday, 14 June 2011

Bunga



Berjalan pada pukul enam pagi. Sepi. Langkah-langkah kita pelan seperti detak waktu di per-tiap detik. Seperti butiran embun yang menunggu jatuh ke tanah sebelum bias di renggut cahaya mentari.

Ini tentang sesuatu yang semena-mena merajai pikiran dari masing-masing pejalan hidup, tak perlu mendefinisikannya dengan artikulasi secara universal, cukup dirasa dari masing-masing kita. Ingat, darimana kita berasal dan dimana kita akan selamanya kekal.

Sunday, 12 June 2011

Dua Warna (Flash Fiction)



Malam dengan semburat cahaya lilin. Lampu padam, gelap tertangkap pada pandangan dan kenangan terseret di belakang mengikuti seperti pada gambar kupu-kupu berbandul batu koral yang terikat di kedua sayap kelabunya yang ia lihat di sebuah gambar hasil jepretan seorang teman fotographer, kemudian angin membawa hawa dingin mengambangkan pikiran mengenang kenangan. Saat ini, saat lampu padam tanpa alasan dari perusahaan.

Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono)

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni 
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni 
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni 
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.


A Moment



Dari tempatku berdiri, aku masih bisa melihatmu, melangkah pelan di kejauhan. 
Aku seperti ingin mengabadikannya pada momen itu, sehingga tak terlalu merasa kehilangan.

Thursday, 9 June 2011

Courier



Setiap hari aku mengatur rencana. Kecuali untuk rindu yang selalu datang secara tiba-tiba.



Tuesday, 7 June 2011

Berhenti Mencari Dan Kamu Akan Menemukan



Malam diiringi sebuah tembang So Little Time - Nya Arkarna yang sengaja diulang-ulang di Playlist. Malam yang bertajuk sepi ini kian syahdu. Seperti ranting pohon beringin kecil di depan rumah yang pasrah dihembus angin malam, kepulan asap rokok yang menguap ke langit-langit kamar, jejak-jejak kenangan yang terkumpul menjadi banyak yang akan dibekukan atau diuapkan, lalu akhirnya sebuah gerakan jemari yang menyisakan suara tik.tik pelan.
Apa yang mengakrabi  malam kali ini adalah sesuatu yang sedang menuju dunia "Entah."

Biarkan membeku agar jadi kenangan, daripada menguap lalu hilang...

Bagi Sahabatku Yang Tertindas (kahlil Gibran)




Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan, diberi makan pada dada penurunan nilai, yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani, engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur dengan airmata yang getir.

Friday, 3 June 2011

Lama-lama menjadi sebentar


Ketika Angin berhembus secara sempurna, pepohonan seolah terlihat angkuh, di jalan yang menukik itu terhampar rerumput bermandi kabut. 
Kupu-kupu pamer sayap, bunga-bunga membanggakan madu, ilalang goyang seolah bimbang meninggalkan pagi yang menjauh. Siang datang tapi keruh.