Thursday, 27 January 2011

KITA

Sebenarnya ini bukan hanya sekedar kesederhanaan mengucap kata 'kita'.
Sebab, aku tahu bahwa 'kita' bukanlah sebuah tujuan yang paling utama untuk kita.

'kita' yang kita rasakan ternyata hanya seumuran kepompong yang pada akhirnya menjadi kupu dan terbang menantang bencana.
tapi yang membuat 'kita' yang dulu sama-sama mengucap kata kita ternyata hanya selentingan dari getir kepedihan yang tergigit. untuk kita.

'kita' yang kita ucapkan pada air mata, kesenangan dan kepedihan. ternyata mendapat giliran bahwasanya kita bukan apa-apa.


Tuesday, 25 January 2011

Time and Time again.

Sebenarnya waktu yang kita bayangkan membentuk aksara-aksara, angka-angka atau rentetan peristiwa-peristiwa?.

Kita sama-sama sedang melewati waktu. siapa yang sedang berjalan dibelakang kita dan siapa yang sedang bersama di samping kita dan juga siapa yang sudah mendahului kita.

Ketika sedang ingin menggambarkannya. waktu seperti batu-batu sungai yang hitam. seperti gelap malam dengan kunang-kunang. seperti jejak-jejak tapak kaki. seperti rangkaian aksara-aksara. seperti deretan angka-angka. seperti asap yang mengepul dan hilang terserap udara.

Seperti api. seperti air. seperti seperti udara. seperti angin. seperti cinta. seperti benci.

Seperti laki-laki atau seperti perempuan?

Kita terlempar di ruang yang tak terbatas. kita menyatu di udara yang bebas. kita mengalur pada cerita-cerita yang tak pernah lepas dan selalu kandas oleh bayang-bayang waktu yang membekas.

Dan pada akhirnya. dia juga akan berhenti. menetap pada sebuah tetapan.
Membentuk aksara dan angka-angka. membentuk ingatan dan harapan-harapan.

@abee_dee

Saturday, 22 January 2011

Aku akan tinggal.

Disini,
Aku akan tinggal.
Seperti debu yang mengekal di sudut-sudut punggung dinding yang terpiting sekat tebal.
Seperti pasir yang mengaspal jalan-jalan terjal, menahan landai dengan kepal, yang kuyakin pasti kekal.

Disini.
Aku akan tinggal.
Seperti lumut di bawah rumput yang merajut pondasi gempal, menahan embun segar hingga terbias oleh sinar.
Di mimpi-mimpimu yang tak selesai, membisik di antara sadar, hingga bingar sekalipun tak kau dengar.

Disini,
Aku akan tinggal.
Pada senja yang mengakar di pagar-pagar langit mekar, tanpa sedikitpun getir tergigit di hatimu yang khawatir.

Aku akan tinggal.
Disini, Di Kota ini.
Sampai hariku selesai.
Dengan harapan doa-doamu yang terhantar.

@abee_dee

Aku ingin pergi seperti

Aku ingin pergi seperti : Daun yang tertiup angin di serakkan tanah kering.

Aku ingin pergi seperti : Pasir yang melandai tergerus air pantai.

Aku ingin pergi seperti : Embun yang menguap hilang terenggut cahaya terang.

Aku ingin pergi seperti : Mimpi yang tak selesai di bawah wajah pagi.

Aku ingin pergi seperti : Pagi yang meninggalkan segelintir getir tanpa rasa khawatir.

Aku ingin pergi seperti : Engkau yang sesuka hati.

@abee_dee



Sekarang seperti

Sekarang, aku tak ingin mereka berkata,
Sunyi masih terkandung seperti biasa,
Dan kecupan malam, tak melagukan nama.

Sampai pasti, sampai menjamur ragi-ragi fermentasi.
Hingga mendidih, merintih silih tak berganti.
Apakah perih?

Semenjak kata-katamu mati,
Seperti menanggung kutuk, hanya bernafas dalam hening,
dalam rembulan yang kau pandang sendiri.

@abee_dee

Wednesday, 19 January 2011

Anya bisa terbang

Ayunan itu bergoyang sendiri, siapa yang mendudukinya, gemericit seperti burung pipit rantai penopang papan duduknya, mungkin tertiup angin.

Ditempat ini, disudut bangunan tua yang tidak berpenghuni, seorang laki-laki duduk terpaku diatas sebuah tumpukan batu, hari yang senja dengan cakrawala tersenyum kepada penghuni bumi, wajahnya menatap lurus kehamparan rerumputan yang mulai mengering dan bekas tekapan-tekapan jejak kaki.

ia terkenang memori duapuluh tahun yang lalu, ditempat ini, ia sering berlari-lari lalu melompat kedalam sebuah danau, berenang, berjemur diatas onggokan batu mengeringkan badan, memanjat pohon buah jambu air dan pohon ceri, memetik daun-daun nangka lalu merangkainya menjadi mahkota dan tali pinggang seolah aksesori alam yang melengkapi tarian-tarian setiap permainannya.

Tuesday, 18 January 2011

ELEGI SANG MALAM

Aku duduk dimalam melingkari waktu dan cahaya,
Menjabat lirih semilir angin yang menggoyangkan daun,
Temaram sinar terasa asing karena gemeretak dahan pelam yang hampir patah,
Suatu sentuhan malam dengan rindu yang mendungu,

Disini bergumpal selimut malam,
Embun yang membisu dan beribu-ribu sejuk yang memeluk,
Dingin tak hanya angin, sunyi, tanpa ada bunyi.

Aku meragukannya, kadang-kadang, ia juga meragukan aku.
Sebuah cerita klasik yang menarik, pantas dijadikan sebuah lirik.
Lantunkanlah dengan suara mendayu,
Semerdu mungkin, selirih mungkin.

Dan disini, sedini mungkin biar aku yang tulis satu larik,
Rindu yang mendungu, rindu yang memburu.
Melintaslah : walau aku ragu, walau engkau ragu.
Biar menguak semua, satu kepalsuan metafora yang fardu.

@abee_dee



Thursday, 13 January 2011

Aku ingin jadi keheningan untukmu (sajak pablo neruda)

Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada,
dan kau dengar aku dari jauh, tapi suaraku tak menyentuhmu.
Seperti matamu yang mengalur hingga jauh
seperti ada sebuah kecupan yang mengunci mulutmu.

Seperti segalanya terpenuhi dengan jiwaku
Kau menjelma dari segalanya, memenuhi jiwaku.
Engkau seperti jiwaku, kupu-kupu mimpi,
dan engkau seperti kata Melakoli.

Aku ingin jadi keheningan untukmu: dan kau berjauh jarak.
Suara itu seperti engkau meratap, seperti merpati suara kupu-kupu.
Kau mendengarku dari jauh, suaraku tak mencapaimu:
Biarkan aku datang padamu menjadi hening dalam sunyimu.

Dan biarkan aku bicara denganmu, dengan kesunyianmu
terang seperti lampu, seadanya bagai seutas cincin.
Engkau seperti malam, menyimpan keheningan dan konstelasi.
Sunyimu adalah bintang, memencil jauh dan bersembunyi.

Aku ingin jadi keheningan untukmu: seakan kau tak ada,
jauh jarak itu penuh nestapa itu seakan kau telah mati.
Lalu hanya satu kata, satu senyuman, cukup sudah.
Dan aku bahagia, bahagia karena segala menyaru palsu.



I like For You to be Still 


I like for you to be still: it is as though you were absent, 
and you hear me from far away and my voice does not touch you. 
It seems as though your eyes had flown away 
and it seems that a kiss had sealed your mouth. 


As all things are filled with my soul 
you emerge from the things, filled with my soul. 
You are like my soul, a butterfly of dream, 
and you are like the word Melancholy. 


I like for you to be still, and you seem far away. 
It sounds as though you were lamenting, a butterfly cooing like a dove. 
And you hear me from far away, and my voice does not reach you: 
Let me come to be still in your silence. 


And let me talk to you with your silence 
that is bright as a lamp, simple as a ring. 
You are like the night, with its stillness and constellations. 
Your silence is that of a star, as remote and candid. 


I like for you to be still: it is as though you were absent, 
distant and full of sorrow as though you had died. 
One word then, one smile, is enough. 
And I am happy, happy that it's not true. 


Pablo neruda



Agar kelak kau simak aku (sajak pablo neruda)

Agar kelak kau simak aku
kata-kataku
kadang tumbuh menerawang
seperti jejak-jejak camar di sepanjang pantai.

Kalung, lonceng kerasukan
untuk tanganmu halus, selembut buah anggur.

Dan kusaksikan kata-kataku
Kata-kata yang lebih punyamu daripada milikku.
Kata-kata yang memanjati nestapa lama bagai liana.

Ia juga merambati dinding-dinding kabut.
Kau menanggung kutuk untuk pertarungan kejam ini.
Kata-kata melarikan diri dari jerumun gelapku.
Kau mengisi segalanya, kau mengisi semuanya.

Sebelum engkau, mereka menghuni kesunyian yang kau
tinggali, mereka lebih berguna bagi dukaku daripada kau.

Sekarang aku ingin mereka berkata apa yang ingin kukatakan
padamu, membuat kau mendengar apa yang kuinginkan
kau mendengarnya.

Angin penderitaan masih terkandung seperti biasa.
Sesekali mimpi puting beliung mengetuk juga.
Kau dengar, suara lain di dalam suara nestapaku.

Keluh mulut yang dahulu, darah permohonan dahulu jua.
Cintai aku, kawan. Jangan abaikan. Ikuti aku. Ikuti aku,
kawan, di ombang-ambing gelombang penderitaan ini.

Tapi kata-kataku jandi ternoda oleh cintamu.
Kau mengisi segalanya, kau mengisi semuanya.

Lalu kubuat kata-kataku menjadi kalung tak berujung
untuk tanganmu putih, halus selembut buah anggur.


So That You Will Hear Me 


So that you will hear me 
my words 
sometimes grow thin 
as the tracks of the gulls on the beaches. 


Necklace, drunken bell 
for your hands smooth as grapes. 


And I watch my words from a long way off. 
They are more yours than mine. 
They climb on my old suffering like ivy. 


It climbs the same way on damp walls. 
You are to blame for this cruel sport. 
They are fleeing from my dark lair. 
You fill everything, you fill everything. 


Before you they peopled the solitude that you occupy, 
and they are more used to my sadness than you are. 


Now I want them to say what I want to say to you 
to make you hear as I want you to hear me. 


The wind of anguish still hauls on them as usual. 
Sometimes hurricanes of dreams still knock them over. 
You listen to other voices in my painful voice. 


Lament of old mouths, blood of old supplications. 
Love me, companion. Don't forsake me. Follow me. 
Follow me, companion, on this wave of anguish. 


But my words become stained with your love. 
You occupy everything, you occupy everything. 


I am making them into an endless necklace 
for your white hands, smooth as grapes.

~Pablo neruda~



Aku mengenangmu seperti (sajak pablo neruda)

Kukenang kau sebagai kau di musim gugur terakhir.
Dengan baret hijau dan senyap di hati kesunyian.
Di matamu lidah api senja hari bertarung berkobar.
Dan dedaunan berguguran ke muka kedung jiwamu.

Lenganku berangkulan seperti tanaman merambat.
Dalam teduh, dedaunan merangkum suaramu, perlahan.
Pukau unggun api membakar rasa hausku.
Anggun bakung biru, terpintal terjalin di jiwaku.

Seperti matamu mengembara, musim gugur jauh di sana:
baret kelabu, suara burung, hati seperti rumah mendekat
menjadi arah, kemana rindu yang parah berpindah
dan kecupan-kecupanku rubuh, bahagia bagai baraapi.

Langit dari sebuah kapal. Padang dari perbukitan:
Kenanganmu tercipta dari cahaya, kabut, dan kolam diam!
Melampaui matamu, menjauh lagi, malam-malam terbakar.
Dedaunan kering musim gugur menghambur di jiwamu.


I Remember You As You Were 


I remember you as you were in the last autumn. 
You were the grey beret and the still heart. 
In your eyes the flames of the twilight fought on. 
And the leaves fell in the water of your soul. 


Clasping my arms like a climbing plant 
the leaves garnered your voice, that was slow and at peace. 
Bonfire of awe in which my thirst was burning. 
Sweet blue hyacinth twisted over my soul. 


I feel your eyes travelling, and the autumn is far off: 
grey beret, voice of a bird, heart like a house 
towards which my deep longings migrated 
and my kisses fell, happy as embers. 


Sky from a ship. Field from the hills: 
Your memory is made of light, of smoke, of a still pond! 
Beyond your eyes, farther on, the evenings were blazing. 
Dry autumn leaves revolved in your soul.

by : pablo neruda



Jiwa yang tercekau (sajak pablo neruda)

Bahkan kita pun tersesat di senja kala ini.
Tak ada yang melihat kita berpegang tangan malam ini
malam yang meluruhkan birunya ke dunia.

Aku melihat dari jendela yang terbuka
matahari berpesta, tenggelam di kejauhan puncak gunung.

Sesekali tampak sepotong matahari
terbakar seperti keping uang di antar dua tanganku.

Aku terkenang engkau, hati tercekau
dalam duka itu, dukaku itu, engkau tahu.

Lalu engkau, dimanakah?
Lalu di sana itu, siapakah?
Lalu yang disebutnya, apakah?
Kenapa saat segenap cinta tiba tiba-tiba
saat itu duka meraja dan kurasa engkau jauh disana?

Buku tersia senantiasa tak terbuka saat senja tiba
dan sweater biruku teronggok: simpuh anjing luka.

Selalu, selalu saja engkau menyusut melintasi malam
melewati senja, gelap yang menelan patung-patung.


The Clenched Soul 


We have lost event this twilight. 
No one saw us this evening hand in hand 
while the blue night dropped on the world. 


I have seen from my window 
the fiesta of sunset int he distant mountaintops. 


Sometimes a piece of sun 
burned like a coin between my hands. 


I remembered you with my soul clenched 
in that sadness of mine that you know. 


Where were you then? 
Who else was there? 
Saying what? 
Why will the whole of love come on me suddenly 
when I am sad and feel you are far away? 


The book fell that is always turned to at twilight 
and my cape rolled like a hurt dog at my feet. 


Always, always you recede through the evenings 
towards where the twilight goes erasing statues.

Pablo neruda

inilah aku yang mencintaimu (sajak pablo neruda)

Inilah aku yang mencintaimu.
Pada pinus hitam angin mengurai kekusutan.
Bulan berpendar seperti fosfor di air tak berhulu-muara.
Hari demi hari, sama saja, saling memburu-mengejar.

Salju tak tergulung dari sosok-sosok berdansa.
Camar berbulu perak tergelincir terbang dari barat.
Sesekali tampak sebuah layar. Tinggi, bintang yang jauh.

O ada silang hitam sebuah kapal.
Bersendiri.
Sesekali aku terbangun dini hari, dan jiwaku basah.
Di kejauhan laut bergemuruh disahut gemuruh.
Inilah pelabuhan itu.
Inilah aku yang mencintaimu.

Inilah aku, ketika cakrawala sia-sia menyembunyikanmu
Aku mencintaimu walau segala membeku mengepung.
Sesekali kecupanku berlayar bersama kapal besar
menyeberangi laut menuju yang tak tersampai.

Aku merasa dicampakkan bagai jangkar tua.
Pelabuhan makin murung ketika petang tertambat di sana.
Hidupku jatuh kian letih, lapar tanpa ada sebabnya.
Aku mencintai apa yang tak bisa kupunyai. Engkau begitu jauh.

Kebencianku tak terebut oleh senja yang lamban.
Tapi malam tiba jua, dan mulai bernyanyi bagiku.
Bulan membalikkan arah jarum jam mimpinya.

Bintang terbesar menatapku dengan matamu.
Dan seperti aku mencintaimu, pinus dan angin
daun yang berjalin ingin melagukan namamu.


Here I love you. 
In the dark pines the wind disentangles itself. 
The moon glows like phosphorous on the vagrant waters. 
Days, all one kind, go chasing each other. 


The snow unfurls in dancing figures. 
A silver gull slips down from the west. 
Sometimes a sail. High, high stars. 


Oh the black cross of a ship. 
Alone. 
Sometimes I get up early and even my soul is wet. 
Far away the sea sounds and resounds. 
This is a port. 
Here I love you. 


Here I love you and the horizon hides you in vain. 
I love you still among these cold things. 
Sometimes my kisses go on those heavy vessels 
that cross the sea towards no arrival. 


I see myself forgotten like those old anchors. 
The piers sadden when the afternoon moors there. 
My life grows tired, hungry to no purpose. 
I love what I do not have. You are so far. 


My loathing wrestles with the slow twilights. 
But night comes and starts to sing to me. 
The moon turns its clockwork dream. 


The biggest stars look at me with your eyes. 
And as I love you, the pines in the wind 
want to sing your name with their leaves of wire

Pablo neruda

SUMBER

Wednesday, 12 January 2011

sampai akhirnya : engkau bisa membaca.

Aku harus menjadi sebuah huruf,
vokal yang hidup, yang menyusup diantara huruf konsonan-konsonan matimu,
sampai menjadi arti suatu kata.
entah itu apa.

Aku harus menjadi sebuah kata,
seucap yang mengandung makna, yang mengantarai kalimat-kalimat matimu,
sampai menjadi suatu bait cerita,
entah itu apa.

Aku harus menjadi sebuah kalimat,
barisan yang nikmat, yang mengalamatkan semangat pada paragraf-paragraf matimu,
sampai menjadi suatu alur semangat.
ya, cerita-cerita apa saja.

sampai akhirnya : engkau bisa membaca.

@abee_dee

Monday, 10 January 2011

Hujan malam

Dan hujan adalah tempat aku kembali dari kenangan kecil, 
dari wajah angin, dari serpihan rasa takut, 
mungkin pernah sempat mengecap derita.
sebab, hujan tak hanya menyisakan kabut, tapi juga kalut.


@abee_dee

Sunday, 9 January 2011

Warnaku ambil sendiri

Tubuhku berwarna hitam pekat, kini, diantara sepertiga malam.
Tatapku berwarna jingga mulia, tadi, sebuah imigrasi perasaan sesaat.
sekelabat bayang, menari diantara hembusan angin, dari kisi-kisi jendela itu.
aku telah menggaris bawahi yang terjadi hari ini.

Aku yang berkamar dalam serakan kata-kata,
tak mampu merubah warna,
mendebat hebat dalam satu tarikan panjang sang malam,
apalah arti suatu sisipan kata dalam petak satu lencana.
ambil warna-warna yang kulihat hari ini, CUKUP.

@abee_dee

Thursday, 6 January 2011

Request to

Waktu telah malam,
diantara memori-memori indah kita,
berterbangan bersama angin,
menyentuh daun, menyentuh dahan-dahan rapuh,
aku bangkit tiba-tiba, dari rasa yang campur baur,
beranjak, udara membungkusku dalam kesiap sunyi.
dicela-cela sempit waktu yang membatu,
aku menemukan khayalnya, yang telah lama luput sebagai imajinasinya.
aku mencintai dia yang lama, yang mengolah kata per kata,
dengan parau suara senja, disisi kedalaman bumi atau langit tinggi.
maka, kembalikan khayalnya padaku,
walau hanya tinggal segumpal debu,
karena jiwaku telah kehilangan dia.

@larungz

Wednesday, 5 January 2011

Kita, Adenium dan Peri mimpi

Malam seperti hijaunya sepi dibarisan pepohonan itu,
kita, demikian sudah sangat berubah.
kerena telah bermalam-malam,
dan bukan hanya pada malam ini saja,
aku mengikat sendu jiwa kita, dengan baris yang tegas. Sunyi

kenangan menjadi seperti nyanyian burung-burung malam. Syahdu.
memupuk keasaan pada linear malam,
sekejap, agar cepat terlelap,
mungkin nanti bermimpi tentang peri yang membaca sajak.

dan pada malam ini,
dari satu malam ke malam yang lain, ku hampiri adenium,
baru saja ia tersenyum, ia tau, aku memesan embun untuk wajah pagi.
esok aku kembali mencumbu daunnya sebelum direnggut sang mentari.

Ketika akhirnya kita tutup sebuah malam,
peri mimpi membuka hidup, mengibaskan selendang,
mempercantik diri dan bersiap masuk pada jiwa-jiwa yang mengantuk.
siap mengajak lelap dengan berbait-bait sajak.

Peri mimpi,
biarkan aku melangkah mendekatimu,
aku bukan hendak mengganggumu,
aku hanya ingin selendang mimpi itu membalut pada leher tidurku.

@abee_dee

Tuesday, 4 January 2011

Anting-anting itu memang harus sepasang

Adik, sebelah antingmu patah,
aku yang menemukan patahan itu,
sepertinya waktu itu malam.
malam yang dalam linear kelam.

tak kusangka ke tak seimbanganmu membuncah pada maya,
aku terlena pada mata, senyum disenja yang beda.

adik, apakah antingmu benar patah,
aku yang melihat ia berkilau terbias cahaya lampu,
pada bangku yang setia menunggu terisi oleh para pengungsi-pengungsi hati.

aku sudah mengira kita sama,
jauh sebelum kita bicara-bicara,
seperti aku tau harmonisasi tentang nada lagu.

adik, antingmu tak pernah patah,
aku tak menemukan patahan itu, mungkin ia hanya terlepas,
sangkut di helai-helai rambutmu.
kibaskan saja, hanya kau yang bisa.

Anting-anting itu,
mereka memang harus sepasang, adik.

@abee_dee

Monday, 3 January 2011

Bersandar pada senja (sajak pablo neruda)

Sewaktu bersandar pada senja, kutebarkan jala dukaku
ke lautan matamu.

Di sana, kesepianku membesar dan membakar dalam marak api maha tinggi
tangannya menggapai bagai orang lemas.

Kukirim isyarat merah ke arah matamu yang hampa
yang menampar lembut seperti laut di pantai rumah api.

Sewaktu bersandar pada senja, kucampakkan jala dukaku
ke laut yang mengocak lautan matamu.

Burung-burung malam mematuk pada bintang-bintang pertama
yang mengerdip seperti kalbuku ketika menyintaimu.

Malam menunggang kuda bayangan
sambil menyelerakkan tangkai-tangkai gandum biru di padang-padang.

~ Pablo neruda ~


Pablo Neruda (1904-1973), penyair Chile pemenang Hadiah Nobel 1971
Diterjemahkan oleh Wan A. Rafar dari terjemahan Inggeris oleh Mark Eisner


Sunday, 2 January 2011

Diam-diam aku menyelinap disajakmu.

Betapa rindu aku dengan tatap itu, (matamu) yang menghindar,
senyap dalam gelap,

ahhh, betapa ingin aku menulis sajak tentang matamu (lagi),
dimana aku masuk (pada bagian teduh disana) dan merebut ombak (ketika kau sedang memejam).

(lalu) aku ambil dagu itu (dengan ragu-ragu),
taukah kau, ada getar yang tak sabar (di dadaku), seperti sedang menunggu kabar.

diam-diam aku menyelinap disajakmu, (mencari) apakah kau menulis (lagi) tentang aku.
(mungkin) tidak untuk saat ini atau sudah (tamat) semua episode (kita)

sadarkah kita?
saat sama-sama bersandar pada (satu) bangku (yang kini telang kosong) itu.