Wednesday, 23 March 2011

Ada



Aku ada, dia juga, ingat saja, di dahan kembang yang bergetar di kelilingi serangga yang menghisap nektar.

Juga di bawah matahari berudara lapuk, diantara dentingan menara jam taman kota, rasakan saja perlahan, seperti jalan jarum panjangnya.

Ataupun di sesapan kopi yang kau minum, kan sudah tersusun racun-racun yang menyebar hingga ke tulang sum-sum.

Dan, mungkin di bawah senja yang ramai anak kecil bermain layangan dan berlari-larian.


Atau pada malam, di ingar bingar nada kacau panggung underground, di balik caci maki pengatur sound.

Mungkin juga dibalik lensa camera yang menyisakan tiga frame terakhir, cari saja.


Ide itu pasti ada.


Kembangkan saja.


maret 2011




Friday, 18 March 2011

Memoar yang tak pudar


Langit sudah terang dan aku masih bimbang,
cahaya mentari menyusup lembut berbelang-belang membentuk kabut di langit gerimis,

Rasa yang fana telah terminum seperti racun dalam tubuhku,
perempuanku, aku bimbang, seperti burung yang tak tau hendak kemana bersarang,

Di pohon semu, aku menggelayuti rindu yang meriwayat dan tak pernah tamat, menangkap rasa dalam senyap, seperti asap di sisa-sisa pembakaran kenangan.

Ini kisahmu perempuanku, menjadi ceritaku yang bergumul igauan pada malam-malam biru nan sendu, menyalin kembali memoarku ke dalam buku-buku puisi bertujuan mengenangmu.

Gerimis sedang menanti hujan datang,
menjelma rintih hati yang mencari pulih,
dari kedalaman sinar matamu yang ambigu,
aku meramu, mencoba menguak tabir pada getir kecemasanku.

Akan ada damai, katamu.
di bawah temaram lampu kuning saat itu,
Senyummu terbakar meski hatimu bergetar menanggung aral,
Pasti, kataku. dan aku tahu senyum itu luka yang samar dari ranum bibirmu.

Aku terpaku, ada rahasia di lingkar matamu yang bersembunyi dalam tatapan sendu,
deru keingintahuanku medobrak dalam suara paraumu yang mengucap "aku baik-baik saja".
aku tak percaya.

masih perempuanku,
masih saja sulit membiasakan malam-malam tanpamu,
di rona wajahmu yang pucat, untuk terakhir kali, lekat ku pandang dengan hati senyap,
selamat jalan, barisan pelayat berjalan pelan.

Langit kian terang dan gerimis perlahan hilang,
semua tentangmu telah menyebar dan berkembang dengan baik ke bagian tubuhku seluruhnya, seperti leukemia yang mengambilmu dariku secara perlahan.

Selamat jalan perempuanku, warna-warna indahmu kan terus mekar, sejajar di pilar-pilar langit yang menghampar, dan cinta ini sulit pudar.

*prosa ini lahir dari request 10 kata oleh seorang teman Reny payus
 Bimbang - fana - rindu - gumul - rintih - damai - rahasia - suara - rona - pudar.

Gambar di atas hasil jepretan Bang loklong. Disini.

~ lapanbelasmaretduaribusebelas ~

Monday, 14 March 2011

Subjektiva


Senja yang lamat-lamat hilang di telan laut, lalu luput dari sudut cakrawala, sisakan garis langit berhias awan-awan buram, arus samudera seperti menarik surya dengan tali-tali airnya yang menggaram, melebur bersama buih berwarna suram, karam, lalu kelam.
kemana ia?

"ia menepi, kembali keperaduannya memanggil bintang yang tertidur, dan kumpulan bintang yang tertutup oleh sinar mentari, terbangun membentuk rasi-rasinya membentang langit malam"

"ia sembunyi, diantara awan abu-abu sebelum tertelan mulut laut dan memanggil rembulan, juga burung-burung malam yang tersentak oleh angin yang menampar gelap"

"ia melenyap, bersama cerita-cerita yang tersirat dan tersurat, merampungkan endapan-endapan yang terangkum untuk menjadi embun, berkamuflase pada setiap pandangan insan yang menangkap gelap, berganti dengan cahaya lampu petromax"

"ia meresap, larut bersama senyawa kimiawi dunia, meleburkan malam menjadi keping-keping pengertian hati, terseret senyum ranum untuk kembali berkumpul pada wajah ceria esok hari. Ialah pagi"

"ia bergulir, mengelilingi tepian terjal untuk dapat kembali lagi, berdamai pada anak-anak peluru yang memburu rindu dalam kelam malam, sepadan ia, mematuti segala nominasi yang pasti ia dapati, doa insani, tulisan dalam buku-buku puisi, tertulis pada malam-malam melankolis, abadi dalam sebuah abstraksi"

"ia akan kembali, pada pagi, pada embun di daun, pada senyum-senyum yang ranum, pada mata yang membuka awal cerita, kepada siapa saja yang memupuk harapan pada linear kelam untuk di jadikan pedoman menggapai bahagia. Ia, sang mentari"

Kembali ia, mengembalikan emosi sebelumnya, seperti bintang yang baru terlahir, menyihir tiap getir, menjalankan setiap takdir hingga sampai waktunya nanti menggelincir.

Gambar di atas saya ambil dari sebuah album foto seorang teman. Disini. (sebuah senja di tambelan, bintan, kepulauan riau)


kijang maret 2011



Tuesday, 8 March 2011

Satu Hari Untukmu

Pagi itu embun yang membasahi kelopak daun di bibir bumi,
ketika kau membuka mata,
sinar itu ada,
dan hamparan hari bagai taman bunga-bunga mawar,
daunnya segar, harumnya sejajar wangi tubuhmu,
lalu, dari bibirku, doaku menyambar tulus untukmu.

Friday, 4 March 2011

******

KEPEDIHAN dan kesedihan rupanya adalah kekuatan yang menghancurkan segala bentuk perlawanan.
Pada kesekian ingatanmu tentangnya, mungkin lima atau sepuluh tahun berikut, mungkinkah matamu masih menurunkan hujan.

Thursday, 3 March 2011

Another line Tepian

Sepi hanya angin, yang tergambar hanya semburat cahaya rembulan manis di tepian. ketika sebuah malam mempertanyakan kelegaan hati, aku tak mampu menjawab, senyap, seperti sepi yang hanya angin.

Perlahan namun pasti. setiap yang melangkah membawa pikiran dan kenangannya masing-masing. seperti sudah terbiasa, sudah terbaca, namun, hanya altar keceriaan terpampang di wajah mereka, juga aku.