Thursday, 28 April 2011

Sajak Putih ~ Chairil Anwar


Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah…

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku…

~Chairil Anwar
1944

*sajak ini ditujukan Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya

Thursday, 21 April 2011

Buku : Tepian (kota ini belum mati)




Buku Tepian (kota ini belum mati) adalah buku pertama saya yang di terbitkan melalui nulisbuku.com.
Design sampul dirancang oleh seorang teman, Trauma "madz" irama. 
Buku ini berisi 12 cerpen yang menceritakan kisah-kisah seputaran Tepian. Banyak kisah-kisah unik yang terangkat di dalam buku ini, serta beberapa puisi yang menghiasi isi dalamnya. Bercerita tentang kehidupan, cinta, alam, mistis dan beberapa unsur cerita-cerita lain yang merangkum kisah-kisah setiap orang yang menjalani kehidupan, dalam merangkul waktu, dalam berdamai dengan kenyataan, dalam bertoleransi dengan hati, dalam melewati batas-batas kewajaran, dalam bercengkrama dengan alam, serta pandangan terhadap suatu kota yang berangsur mengumpulkan nyawa-nyawanya untuk tetap Hidup dan memegang harapan terhadap penduduknya.

Buku Tepian (kota ini belum mati) bisa di beli secara online melalui nulisbuku.com, atau langsung pesan ke saya di absoulute_de@yahoo.co.id atau tepiankijang@gmail.com.

Terimakasih kepada nulis buku.com yang telah menyediakan media para penulis untuk menerbitkan buku-bukunya. Serta Komunitas Satu Senar yang telah mendukung secara penuh.

Info buku ini bisa di lihat jelas disini nulisbuku.com


Cerpen : E-Love Story "Di bawah langit hujan"



Hujan mungkin bukan sesuatu yang asing lagi bagi bumi. Rinai yang turun secara acak menggempur tanah-tanah kering seolah memanipulasi pandangan menjadi lanskap yang takjub. Dan kabut dan pelangi setelahnya.


Hari ini hujan tak henti dari pagi. Dinginnya merasuk hingga ke rusuk. Pepohonan sepertinya tersenyum dengan cuaca seperti ini. Daun-daunnya melambai-lambai menari seolah sedang mendengarkan lantunan nada-nada langit yang harmonis. When its rain - paramore menemani renungan soreku. Aku menatap jalan becek di depanku. Percikan-percikan air yang jatuh di aspal memberi satu pandangan yang memaksaku menatapnya terus-menerus. Hujan ini seperti teori chaos dengan sistemnya yang tidak teratur dan anarkis. Bila di lakukan pembagian atas bagian-bagiannya yang terkecil maka sistem yang besar dan tidak teratur akan di dapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur pada hal-hal terkecilnya. Seperti rintik-rintiknya tersebut.

Tuesday, 19 April 2011

Dalam Doaku - Sajak "Sapardi Joko Damono"



Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”)

Foto : Sapardi Joko Damono & Hindra Setya Rini

Friday, 8 April 2011

Pernah



Pernah tertulis sebuah frasa yang bertema alam
Tentang engkau yang ku kenang tiap malam
Tapi bukan tentang bulan, bukan juga gelembung awan
Juga bukan langit, yang tak mungkin tergapai walau menjinjit
Teringat besarnya rindu yang bercumbu pilu
Kasih tak sampai, pada hari-hari yang tak terurai
Sejuk yang terasa dalam satu bahasa telah menganga, entah kini menjadi apa.
Mungkin telah lewat musim terbaik, dikala bersama saling berbisik.
Serupa hamparan rerumputan dan ilalang, lama-lama kau pun menghilang,
Ah, ada warna lain dalam pandanganmu, lebih warna-warni.
Frasa itu, banyak rasa bila terbaca, cobalah, 
Pasti berdesir hatimu,
Masihkah kita sama-sama mengenang?


Kijang. April 08 2011



Sunday, 3 April 2011

Ibu (Kahlil Gibran)



Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari
kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita di kala lara, impian kita dalam
rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun
yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi
yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya
dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan
membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.

Khalil Gibran