Tuesday, 31 May 2011

Kata per Kata, Kamu Dan Dunia Di Matanya



Selasa dipenutup bulan Mei yang penuh cerita dari episode yang bergumul dengan bermacam persoalan.
Sedari tadi saya hanya membaca beberapa postingan teman-teman di blognya, lalu tertuju pada satu blogger yang memang telah menjadi favorite saya mengenai postingannya tentang banyak macam hal. Memang selalu berbeda bila membaca apa yang tertulis olehnya, kata per kata yang selalu ia gunakan seperti mencandu dan membuat saya terkejut, bila ada kata yang lebih dari INDAH, mungkin itulah untuknya.

Friday, 27 May 2011

Menoleh Ke Belakang



Tak ada yang mengajari kamu bagaimana caranya tersandung, tergelincir atau jatuh. Tidak juga mengajarimu terbang, mengambang atau melayang. Semua itu hanya memberitahukan kamu untuk percaya, bahwa semua adalah episode dari beberapa peran yang sedang dimainkan, bersyukurlah hingga saat ini kamu masih berada di atas panggung dengan peran baik, tapi, tak menutup kemungkinan peran itu akan berbalik.

Untuk Mereka Yang Ingat Tempat Itu



Senja hampir habis
Udara malam mulai mengejar 
Samar-samar terdengar tembang biduan yang tak beranjak sepi.
Sungguh, malam ini akan terlalu santun untuk pejalan jalang,
Lihatlah di sudut atap rumah di ujung tikungan,
Sepasang lampion melambai terdera angin dan berdebu.
Bagai lambaian tangan yang menyapa setiap pejalan yang tiap malam melintas Tepian ini.
Tepian yang sepi, Tepian yang sunyi,
berkabar tanpa kata seolah melambai.
Kemudian hening,
Kepada setiap pejalan yang melintas
Untuk mereka yang ingat tempat itu.




Photo By : Muhamad Nasrun



Tertarik dengan Iklan di bawah ini? Silahkan klik Gambar untuk info lebih lanjut.
SecretariatThis Earth of Mankind (Buru Quartet)Exile: Conversations With Pramoedya Ananta Toer

Tuesday, 24 May 2011

Di Embun dan Pagi itu?



Di Embun dan Pagi itu?

Kita masih berjalan beriringan tanpa saling bergenggaman, manalah ada yang mengetahui esok. Yang gila adalah hidup dari segala perjalananya yang tak memakai jaminan, biar saja saling mengiringi dahulu, tak perlu saling bergenggaman tangan, biar dari kejauhan aku melihat sebuah kebahagiaan yang abadi dari kisah kita yang saling mendoakan.

Thursday, 19 May 2011

Vice Versa



Kamu bukanlah kejutan sebenarnya, tapi merupakan sesuatu yang bisa membuat terkejut dalam keheningan maupun hiruk pikuk suasana yang ku alami, seperti malam yang sepi tanpa suara apapun di 4 x 5 meter ruang berantakan ini.

Sepi yang biasanya berbicara dan akrab bercanda denganku, kali ini membuatku harus menjadi sesak nafas beberapa waktu, denyut jantung seperti terpompa satu-satu dan iringan walking after you menjadikan waktu membeku.
Terkejut? sangat sekali malam ini dengan kosakata itu, padahal hanya selentingan namamu saja terdengar samar di indera pendengar.

Wednesday, 18 May 2011

Keep Going



Tak semua orang bisa memahami apa yang ingin kita sampaikan dengan gaya bahasa yang sudah pasti berbeda, penyampaian, artikulasi dan metafora tak jarang menjadi ambigu. Untuk kesekian kalinya saya merasakan hal seperti itu lagi, terus menerus, lagi dan lagi. Tak apa, saya sudah terbiasa dan malah sering mengalami, saya akan mempelajari semua itu.

Kenyataannya, tak mungkin semua yang kita hasilkan akan bisa diterima oleh setiap orang. Hasil setelah mengalami berbagai proses bukan ujung dari perjuangan. Ini belum berakhir.

Wednesday, 11 May 2011

Sekat Kaca



Sekat ini barangkali seperti dinding kaca, jelas diseberang sana terlihat kerlipan mata, lengkungan senyum, rona wajah, kibasan tangan. Semuanya masih banyak yang sama. Lantai yang terpijak dan debu yang terhirup juga sama. Adrenalin? barangkali, ini yang berbeda walau gravitasi tetap sama. Peran yang tak sama, lalu akhirnya tak ada lagi selain yang terucap di dalam hati masing-masing.

Tuesday, 3 May 2011

Rahasia



ingat ini nanti
untuk kita yang menganalisa setiap inchi mimpi
ia berbisik sedikit tentang hari esok
tapi, aku katakan ini sebuah rahasia

ingat ini kelak
untuk kita yang merajut satu garis harapan
ia menampakan samar samar cerita hari esok
lalu, aku bilang ini sebuah rahasia

pada ilalang yang sama nanti
pada tepian yang sama kelak
semburat senyum hari-hari ceria
ada perputaran waktu diantaranya

saat ini waktunya kita teriak
meratap memohon di gerbang langit
jangan mengaduh dahulu
belum waktunya mengeluh

ini masih rahasia,
nanti pada esok hari
kelak di embun yang jatuh pada pagi
semua semak akan terkuak


Foto by : Muhamad Nasrun


Kota ini belum mati




kotaku belum jauh
belum padam lampu-lampu malamnya
hanya sedikit menyerah
pada omong kosong sang suasana

kotaku belum rapuh
masih ingar seringai siangnya
hanya sedikit lapuk
jauh, jauh dari kesan terpuruk

mungkin, hari ini masih sama dengan senja kemarin
masih banyak keluh tercatat
barangkali, hari ini masih sama dengan malam kemarin
masih banyak acuh terekam

siapa yang mengetahui akan nanti
 pada lahan yang belum tertanam
pada teriakan yang terbungkam apatisan
ini ruang, ini waktu
jangan terlalu larut bercumbu

sebab aku tak ingat berapa banyak perhatian
sebab aku tak ingat berapa banyak kecaman
sebab aku tak ingat berapa banyak cacian
sebab aku tak ingat,
aku mendekap erat harapan

Tuhan
Aku masih ingin jauh melangkah
pada lorong-lorong sunyi
hingga jauh hari
disini, di kota yang belum mati

foto by : Muhamad Nasrun


Sunday, 1 May 2011

Dunia Sendiri



Aku ciptakan dunia sendiri, 
di dalamnya berisi miniatur kenangan dan mimpi,
selagi matamu tertutup,
selagi itu pula kau mengira aku orang mati.

Aku ciptakan dunia berbicara sendiri,
kuberi ia jiwa dan suara, 
hingga pagi membidik ketakutan dan kalut dalam sela-sela nafas yang sakit.
Bahkan, tak jarang,
Dunia yang kuciptakan sendiri mengelabui isi semesta yang memandang dengan mata sayunya,
dengan segala energi yang ingin dikirimkannya.

Dalam duniaku sendiri,
aku menulis puisi satu kali tiap harinya dalam keinginan yang berkali-kali terhadapmu.
tak banyak yang memahami arti keheningan yang berlalu
Dalam doa duniaku,
tiada henti kulafaskan, yang semata menapikkan tiap segi kesombongan antara aku, kau dan mereka,
biar semua membendung tanda tanya,
untuk apa kuciptakan dunia sendiri.
Untuk berenang dalam kenangan dan mimpi.

{A}


"Aku tak pernah sekalipun menulis tentangmu"



Ia tahu cara berbohong yang benar, bahkan ketika mengatakan "Aku Tak Mencintaimu Lagi."
Senja ketiga yang biru, setelah lama aku tak menepi, sebulir masa lalu bergulir lewat begitu saja di kepalaku, seharusnya tak biru senja ini bila ia bersamaku sekarang, di langit itu yang memupuk segala asa, merah saga warnanya hampir mendekati jingga. Mengapa ia berbohong mengatakan "Aku tak mencintaimu lagi, bahkan jauh sebelum pertemuan ini.." Nafasnya memburu dan tatapan mata yang tak berani menatap langsung kearahku.

Aku memang menghapusnya dari segala kehidupanku, ia sangat menyimak apa yang tertulis tentangnya dalam sajak maupun prosaku, aku melampirkannya melalui fiksi, aku mengenangnya juga menghapusnya.

"Aku pasti merindukanmu." Katanya dalam sebuah pesan sebelum benar-benar ia menghilang dari keseharianku, diiringi hembusan angin malam, sebuah perjalanan waktu menuju impian telah kubakar dan membuang abunya ke dalam samudera terkelam, bersama buaian ombak, aku menari dan melafaskan kata "Aku mencintaimu hingga nanti." Walau aku yakin sekembalinya ia di tempat ini, pada waktu yang ditentukan dari tanggal-tanggal yang membuat senyuman sinis, ia akan berkata lain.

Ia tahu cara berbohong yang benar, bahkan ketika mengatakan "aku tak pernah memikirkanmu lagi.'"

Kalau begitu. Aku juga bisa berbohong "Aku tak pernah sekalipun menulis tentangmu."


kijang. 1 maret 2011