Tuesday, 19 July 2011

Selamat Tidur



Beberapa orang mengatakan sedang baik-baik saja, padahal kedip matanya lelah, tak bisa menipu walau senyum menyapu ke seluruh penjuru.

Lalu berjalan terus seolah menjadi kaki penyelamat orang-orang yang tercemar lebih dari dirinya demi memusnahkan tak berdayaan keadaan yang melankolis.

Melihat aneh padanya sama hal dengan bercermin di sekubangan air nan jernih, namun ketika sekelabat hewan air bergerak atau sesuatu jatuh memecah ketenangannya, segalanya bukan hanya saja buyar, namun hancur, menandakan rentannya ia. Seperti itu.  

Di atas kata yang pantas untuk simpati adalah? Mungkin Cinta. Penyebab yang tak bercara dan sulit untuk dibicarakan. Kelu terlalu menyatu bersamaan ego dan hasrat agar terlihat kuat.

Melalui itu semua bagaimana kita bisa menangis di antara jeritan-jeritan yang lebih perih, mungkin lebih baik terlihat angkuh tanpa mengaduh atau berkolaborasi bersama sunyi sampai kedinginan, namun diam-diam membutuhkan perapian untuk sedekap hangat di telapak tangan. Mungkin itu sebuah pilihan.

Ah...
Beberapa orang mengatakan sedang baik-baik saja. Padahal kedip matanya lelah.
Tidurlah...
Aku juga sedang baik-baik saja. Berkedip dengan mata yang ku anggap biasa. 

Selamat Tidur...

Juli 2011

Photo 


Tertarik dengan Iklan di bawah ini? Silahkan klik Gambar untuk info lebih lanjut.
Handy Living CAC1-S4-AAA82 Cabo Living Room Convert-A-Couch Microfiber Sleeper Sofa, Khaki With 2 Decorative Mocha Circles Throw PillowsHandy Living CAC1-S6-HCH87 Cabo Living Room Convert-A-Couch Chenille Sleeper Sofa, Chocolate with 2 Decorative Paisley Throw PillowsFun Furnishings Sofa Sleeper, Green Micro Suede

Friday, 15 July 2011

Selamat Malam



Setiap malam aku mengucapkan selamat malam kepadamu, selepas turun dari angkutan kota yang berjejalan penuh, pada langkah pertama menuruni pintu bus yang berjalan pelan, bersama hentakan kaki kiri yang menginjak bumi dan pada detik berikutnya tanganku merogoh saku celana mengambil ponsel.

Di Kata Dan kelakuan itu

Terlalu lama kita berdiam hingga akhirnya sama-sama lelah. Sesungguhnya kamu bukan sedang mengejar sesuatu, hanya berlusin-lusin keinginan tentang sebuah singgasana dan nama, bukan panggilan Hati. 

Bila ada yang harus di jaga, ialah perkataan. Kesalahan kegunaannya menyebabkan siapapun merasa perih dan sakit, ia bisa menjadi lebih tajam dari pisau yang diasah setiap harinya.

Penggunaanya bukan untuk menjatuhkan, meninabobokkan dengan omongan, menjelma menjadi sesuatu di mana saja tanpa perlu malu dengan sebuah julukan yang aku dan mereka sebut "Penjilat" "Hypocrite

Oportunis dalam arti bagaimanakah sebenarnya yang ada dalam benak itu?

Dalamnya sebuah sumur bisa diukur , jauhnya sebuah tempuhan bisa dihitung, namun, tolong panggilkan aku seseorang yang mampu menjelajahi seberapa dalamnya Hati.

Mungkin kita bukan sama-sama sedang mencari. Tapi merupakan sedang melewati sebuah sesi hidup yang cukup rumit. 

Dan akhirnya...
Pernahkah kita berfikir bahwa waktu akan bertanya dan bukan akan menjawab.



@ juli 2011 my Desk



Saturday, 9 July 2011

Lagu Kedamaian



Menatap hamparan pasir putih sepanjang pantai dan biru laut yang menempiaskan cahaya matahari senja yang jingga, ternyata dapat menetralisirkan perasaan gulana. Sepoi angin menerjang dedaunan gugur dan menerbangkan debu-debu pasir yang terangkat ke udara. Sempurna hamparan langit dan arak-arakan awan warna abu-abu ini, langit seperti meretak dengan gurat-gurat merata yang mengintip di balik awan, burung-burung lalu lalang terbang pulang sebelum malam menjelang. Indah bumi setiap hari bila kau menyadarinya.

Sebentar lagi matahari tenggelam, langit jingga akan berubah menjadi langit hitam dan gemintang kelap-kelip di cakrawala sana, serta jajaran kunang-kunang terbang terhampar di atas pohon-pohon rendah di sekitaran tepian pantai ini. Suara yang terdengar hanya deru ombak yang menggulung dan kecipak air yang menghantam karang. Jauh di sana terlihat sebuah kapal nelayan yang tampak terombang-ambing dari pandangan.

Wednesday, 6 July 2011

Jalaluddin Rumi ~ Penyair dan tokoh sufi terbesar dari Persia



Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya Paduka."
Ia berkata, "Kenapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa." 


Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa-- yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.


œ

Tuesday, 5 July 2011

Suara Dari Langit


Di atas langit. Ada apa disana? Kata ibuku ada Tuhan dan para Malaikat, juga banyak Bidadari-bidadari yang sedang menari. Perihal Bidadari ini ibu sering bercerita, bila pagi dan sore hari para bidadari itu turun ke bumi untuk membersihkan selendang-selendangnya di sebuah sungai yang ada dibalik gunung itu. Di tempat tinggalku tak ada gunung, hanya perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon hutan menghijau sepanjang barisan cakrawala. Tetapi ibuku selalu menunjuk arah perbukitan hijau yang memang bergunung-gunung tersebut bila aku bertanya tentang langit.

Lain cerita ibu, lain pula cerita ayah. Ayah mengatakan bahwa di langit sana ada sebuah kerajaan yang hanya di tinggali makhluk-makhluk suci, setiap hari penghuni langit memberikan makanan kepada penghuni bumi, mereka tak bisa terlihat dengan mata kepala biasa, jika ingin melihatnya, berdoalah setiap hari dengan tulus, memohon kepada sang pencipta, selalu berbuat baik agar kelak bisa bergabung dengan mereka di sana.

Sunday, 3 July 2011

Di sana : Bukan Masa Lalu



Di depan sana ada sebuah jalan, bisa saja jalan itu penuh ruas dan di kelilingi tebing curam. Apakah kita harus berhenti? Atau tetap berjalan namun dengan sedikit hati-hati. Atau menunggu waktu yang tepat untuk melaluinya? 

Masih banyak yang harus kita tuju di depan. Dengan berjalan atau berlari. Dengan tergesa atau perlahan.