Thursday, 27 October 2011

Mat Kodak Club Project (Episode Dua)

Vihara. KM 14. Bintan.
Seakan kau melihat mereka satu persatu, yang mengenali diri mereka sesungguhnya, yang berbicara lantang kepada Dunia. Isyaratmu seolah berkata. Dunia ini hanya sementara.


Bukit Sidodadi. Kijang. Bintan Timur.
Lalu bayanganku menggilas ilalang siang, pada bukit bumi yang tereksploitasi. Belum sembuh luka pada tanah subur yang mendekati hijau pohonku, menangisi selembar daun kering.


Pelabuhan Sribayintan. Kijang. Bintan Timur.
Jarak yang mengakrabi dan menyentak, berbagi alasan untuk pulang. Sebelum galau menutup mata menahan rindu yang berbisik, hentikan sejenak kayuh. Aku ingin berlabuh sebelum jauh.


Kolam Taman Kota Kijang. Bintan Timur.
Seketika kuselipkan tanya pada keheningan terdahulu, berbisik lirih pada keindahan saat ini. Kini tersibak hebat Air dari Bumi dan Langitku. Di Tepian segalanya kan kukenang, seperti MataMu yang menatap menyeluruh.


Patung-patung Di Vihara. KM 14. Bintan.
Menyentuh genangan sakral pada baris-baris orang suci, yang lekat menjadi panjang perjalanan para pencari. Ke waktu-waktu, ke cabang-cabang hidup yang menjadikan berbagai cerita.

Kedai Kopi Hawaii. Kijang.
Menyesap cita rasa yang tercipta untuk nafas dan pilihan, berbagi kisah yang menutup dan membuka mata. Dari secangkir kopi, bermacam ide telah lahir menjadi banyak kreasi.



Photo by  : Muhamad Nasrun
Narasi by  : Denny Hermawan

Seberapa Pantas



Waktu selalu meyakinkan setiap orang akan ketepatan hitungannya, seberapa kapasitas sesuatu atau seseorang menuju ke arah yang dilakukan atau dilewati. Sangat mutlak bila diuraikan per-tiap gerak dan perubahannya. Kita tahu waktu dihitung dengan alat yang bernama jam atawa arloji, pada masa sekarang ini, kita dengan mudah mengira-ngira, menebak seberapa lama, menunggu pas-nya atau malah telah mengetahui pada detak detik keberapa sesuatu hal itu akan terjadi terhadap kegiatan-kegiatan yang kita lakukan sebagai manusia. 

Tuesday, 25 October 2011

Mat Kodak Club Project (Episode Satu)

Tugu Antam. Kijang. Bintan Timur.

Kota ini belum mati. Belum padam lampu-lampu malamnya. Kota ini belum jauh. Masih ingar seringai siangnya.



Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.

Jernih menawarkan satu bayang kanak menyambut malam yang segera menggenangkan selaksa kenangan. Taburan cahaya harapan masa depan datang terhantar oleh pepohonan dan angin malam.




Nirwana Beach. Lagoi. Bintan.

Tak kulihat lagi jelaga malam pada keemasan pagi. Pada tangan yang bergenggaman erat, membangkitkan semangat setinggi tonggak kapal yang terarah pada mentari. Kan kusambut hari sekilau emas hingga nanti.




Bunian Dance (Tari Bunian). Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.

Kudekati langkah pada hentak tari perempuan-perempuan yang menggenggam bunga padi. Mungkin jiwa-jiwa itu terbang, barangkali jiwa-jiwa itu meninggi. Kususuli hasrat hati dengan niat suci. Mengabadikan. Kenangan untuk berbagi.



Makyong Dance (Tari Makyong). Relief Antam. Kijang. Bintan Timur.
Kehidupan sang penari bahasakan gerak tentang luka, gerak tentang tawa, gerak tentang lucu dan indahnya dunia. Tubuh dan hati akan terus menari, susuri kehidupan yang hakiki.



Batu Licin. Kijang. Bintan Timur.

Bahkan senjapun membelakangimu dengan senyum. Secara terbuka pada tanahmu yang mengering. Sedangkan pada ranting air laut berbisik, langit siap menggigit. Hening, kini tak lagi bising. “Kita belum akan hilang.” Kata ranting kemudian.


Photo by  : Muhamad Nasrun
Narasi by  : Denny Hermawan

Tetaplah hidup agar kita bisa saling memikirkan satu sama lain


Selagi saling memikirkan hanya menjadi satu hal yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Saya akan, saya tetap, saya selalu pasti berpikir perihal tentang kamu. Tentang film-film kesukaanmu, warna-warna favoritmu, pernak-pernik kecil yang menjadi gantungan kunci-kuncimu, sesendok gula yang dituangkan ke dalam kopi saat berada di sebuah kafe yang sekarang tak pernah lagi kita kunjungi bersama, dan buku-buku yang berulang kali kau baca di bangku taman kota.

Wednesday, 19 October 2011

Labirin



Sebut saja sekarang hatiku panas, mengeras pula, walau sudah dahulu, semenjak-semenjak itu.
Gerah mendengar ungkapan kalah, labirin, tak tembus lewat, 


Kapan hatimu pergi
Barangkali hatiku yang terbawa, tersesat di kebun duri, sangkut pada dahan daun beracun.


Ada pagi yang memanggil harap, ada siang yang memangkas jarak, ada malam yang tenggelam dalam keraguan.


Senja terlewat. Di sana tersembunyi rindu, dalam bentuk labirin tak berpintu.


*set us free

Kebahagiaan itu sederhana, tak perlu tanda tanya.




jam 10:58 Oktober 2011 

Sunday, 16 October 2011

Akhiran Yang Sama

Musim panas telah berlalu. Begitu tak menyenangkan dengan hujan yang akan selalu datang. Apalagi kalau hujan itu datang waktu sore. Yang berarti aku akan kehilangan waktu ternikmatku untuk tenggelam dalam buku-buku yang ku baca di bangku taman. Sendiri, bersama angin dan angan-angan.

Aku berharap sore ini hujan tak mencampuri urusanku dengan buku-buku dan angin. Dari kaca jendela kantor mendung terlihat siap. Mungkin hujan akan akrab dengan tanah hingga menjelang malam. Tapi itu baru kemungkinan dan bukan harapanku.


Thursday, 6 October 2011

Jangan Hujan, Gerimis Saja.


Jangan hujan, gerimis saja. Katamu suatu waktu. Hujan tengah akan datang kala itu, udara mulai mendingin, angin telah menyapu memberi penanda untuk semua bersiap menyambut hujan.

Jangan hujan, gerimis saja. Katamu yang masih cemas menunggu. Aku perhatikan gerak matamu, kian lama kian sayu. Entahlah, mungkin sedang  pilu. Atau rindu.

Akhirnya hujan. Aku tersenyum di tengah kulum bibirmu yang manyun. Karena hujan telah datang deras, bukan gerimis seperti yang kau harap-harapkan dan lekas.

Dramatis. Katamu. Namun tak ku sambut dengan kata Romantis, seperti yang ada pada buku. “Ketika hujan dan kamu”. Sebuah kecemasan perihal hujan.

Hatimu rintik gerimis, memasung tangis di kedalamannya, tak ingin hujan, sebab hujan bagimu adalah selaksa cemas.

Hatiku bulir-bulir hujan, menyimpan ketenangan tiap tetesnya, banyak kenangan indah menjurus ke sana, karena hujan bagiku adalah keindahan.

***

Setiap dengar kata “Hujan” selalu muncul di benak saya sebuah tempat. Rumah. Tempat berlindung menghindari air-air dari langit itu. Tempat di mana saya merasa aman. bersidekap dengan kenangan dan macam-macam.


Kata orang, bulan-bulan yang berakhiran “Ber” bulannya Hujan. September, Oktober, November, Desember. Saya berharap kalian tak percaya dengan yang namanya "Kebetulan".

Dan sekarang bulan Oktober. Sepertinya sedang akan hujan. Langit muram. Itu keadaan ketika saya sedang menulis ini. Prosa di atas merupakan proyeksi antara saya dan salah seorang teman, hanya sekedar. Kalau hujan turun saya selalu berharap sedang berada di rumah, menikmati segala rasa dengan cara sendiri.

Suka dan tidaknya kita dengan hujan, kembali pada tiap yang merasakannya. Keadaan akan mempengaruhi akibat dari turunnya hujan, bisa saja salah satu dari kamu akan berucap “The Rain Makes Me Blue” Atau “So Beautiful Rain..” Dan sejenisnya.

Sudah banyak cerita dan mitos tentang Hujan, dan saya tak akan membahas itu. Saat ini saya hanya berharap. Jangan hujan, gerimis saja.



Kijang, oktober 2011, *Ketika tak sedang mengharapkan Hujan.


Photo by Mat Kodak