Tuesday, 15 November 2011

Membuka pikiran secara luas dan menyiasatinya secara sederhana.



Ada sebuah pernyataan yaitu Think Globally, Act Locally yang memang memiliki makna mendalam artinya. Kata-kata itu bisa memicu seseorang untuk terus berkarya dan melakukan hal-hal yang mesti ia lakukan. Dalam konsep sederhana, arti dari Think globally, Act Locally dapat diartikan dengan membuka pikiran secara luas dan menyiasatinya secara sederhana.

Para aktivis lingkungan hidup telah lama memakai istilah Think Globally, Act Locally. Mereka mempertimbangkan faktor-faktor global dengan menjelasakan fenomena pemanasan global yang mempengaruhi iklim, dan secara bersamaan melakukan tindakan nyata secara lokal demi melindungi lingkungan yang berada di sekitar kehidupan mereka.

Membuka pikiran secara luas dan menyiasatinya secara sederhana. Kalau mengambil istilah dalam fotography, gambar itu harus menjelaskan dan bercerita, tak peduli kita memakai kamera yang seperti apa dan lensa yang bagaimana. Secara sederhana, gambar memang harus bercerita. Menyampaikan arti yang dimiliki gambar tersebut agar orang awam sekalipun dapat memahami pesan yang tersirat pada foto.

Memberikan media dan menciptakan sarana. Banyak teman-teman dari blogger di era social media saat ini telah melakukannya. Kegiatan itu berupa memgumpulkan koin untuk membantu teman kita yang putus sekolah dan memberikan obat-obatan atau buku-buku kepada yayasan-yayasan anak yatim atau orang-orang tak mampu dan lain-lain. Ajakan yang di uar-uarkan melaui jaringan internet dan dilanjutkan pada Gathering tersebut telah berhasil. Tindakan nyata yang benar-benar membantu dalam segi aksi yang mengglobal bukan?

Menulis yang merupakan agenda para blogger setiap hari mampu membuka mata dan pikiran. Kegiatan menulis memang menuntut kepekaan terhadap dunia sekitar. Dalam jenis apapun penulis mengekspresikan karyanya, tetap ia harus berpikiran luas untuk setidaknya menghasilkan sebuah tulisan yang menyenangkan atau bermanfaat bagi pembacanya, walau itu hanya di posting dan di share oleh media lokal dan blog/website pribadi.

Hal lain. Mungkin tak banyak kita sadari. Mengambil contoh dikehidupan sehari-hari kita yang menggemari musik luar negeri misalnya. Influencenya bisa memberikan semangat, setidaknya bahwa dengan mendengarkan hentakan musik atau liriknya dapat menyemangati setiap kegiatan atau malah memberi kita ide untuk menciptakan musik seperti itu. Seperti yang dilakukan musisi-musisi Indonesia yang telah banyak saat ini. Malah sejak dahulu sebelum era Band Rock dan akhirnya Boy Band Booming.

Ketika kita sadar, akhirnya timbul pertanyaan dalam diri masing-masing. Mengapa bukan mereka (orang luar negeri sana) yang terinspirasi terhadap budaya Indonesia yang kaya ini. Ah, sudah pasti ini berbicara masalah bisnis. Trend yang berlaku bukankah berujung duit?

Lantas bagaimana kalau kita balik pernyataan tadi menjadi Think Locally, Act Globally yang dalam konsep sederhananya. Berpikir lokal dan beraksi global. Seperti yang telah dilakukan oleh budayawan-budayawan kita dengan cara membawa dan memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke luar negeri supaya dikenal dan dapat mengisnpirasi mereka juga. Sehingga bukan hanya kita saja yang bersedih global ketika Michael Jackson meninggal. Tetapi ada juga orang-orang sana yang bersedih ketika mereka kehilangan orang yang menginspirasi diri mereka dari negeri ini.  

Toh pada ada akhirnya tak semua pernyataan memiliki asumsi yang benar. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Kijang November 2011




1 comments:

slometo said...

hahaha.. Mantab ne tulisannya! kebudayaan luar yg mengilhami kita paling banter fashion dan music... bnyk remaja cow lebih suka ngaku2 fans berat musisi ato group band ternama diluar. biar dibilang gaul! padahal d hp dan kamar isinya kangen band.
begitu jg remaja cew... gandrung bgt ama film korea diprofil fb nya eh dirumahnya malah nuntun cinta fitri.
aku rasa, mungkin remaja indonesia seperti kita ini hanya sdg trkena syndrom latah... atau terkena syndrom malu2, takut d blg norak oleh temen kalo sbnrny lagu favoritny dangdut, padahal jika jujur saja.. sapa sich yg ga suka dangdut? suara dan alunan musik yg bikit jempol bergoyang.
kita hanya terbiasa bilang nggak padahal iya...
bukan salah kita jg sbnrnya! salah pemerintah yg tak serius menjadikan budaya sendiri sbg mata pelajaran utama.
terkesan setengah2 atau bahkan gak ad sama sekali!
semuanya itu kan kembali kepada faktor kebiasaan. ya wong ga ad yg biasakan gimana mau terbiasa...!
pokoke salah PEMERINTAH, TITIK!