Friday, 30 December 2011

Akhir Tahun


Memaknai hari-hari yang lewat menjadi suatu perenungan seperti kembali melihat banyak celah dan salah, tak jarang beberapa kejadian membuat ingatan menjadi campur baur atau kabur. 

Kendatipun demikian, kehidupan adalah pemenangnya dan kita adalah sang pecundangnya. Hasil yang tak memuaskan dan berbagai kekecewaan melintas kembali sebagai pilar yang menghadang, menjadikan keinginan terhambat kembali, atau dendam untuk membalas semua kesalahan dan kekecewaan menjadi sebuah bentuk kepuasan atau kemenangan.

Di masa lalu adalah hal yang pantas untuk diceritakan, di masa depan adalah hal yang memang harus dirancangkan.

Resolusi bukan solusi, tapi bukan juga sesuatu hal yang mesti dihindari. Anggaplah sebagai sebuah pondasi untuk sebuah keinginan yang akan kita jadikan dalam bentuk real

Bila resolusi adalah ketetapan hati, barangkali bisa kita jadikan ia sebagai kebulatan tekad untuk mengambil sebuah sikap di masa mendatang.

"Ya, Allah, ajarlah kami untuk menerima takdir, tetapi tidak berpuas diri menghadapi hal-hal yang dapat diubah."


Wednesday, 21 December 2011

HARMONI ANAK NEGERI 6



Acara tahunan Komunitas Satu Senar “Harmoni Anak Negeri” akhirnya terrealisasi pada tanggl 17 – 18 Desember 2011. Ini adalah Harmoni Anak Negeri yang ke 6. Dilaksanakan di monument Relief Antam Kijang. Setelah sempat tertunda beberapa bulan, akhirnya kami menetapkan pada tanggal 17-18 desember 2011 hari sabtu dan minggu kegiatan musik ini kami selenggarakan.

Sunday, 4 December 2011

04/12/1983 - 04/12/2011 Hari Minggu


Apakah yang dihitung dari perjalanan? Sudah pasti jarak yang ditempuh. Sejauh apapun melangkah hingga berhenti pada suatu titik, nilai yang tertera dari perjalanan itu berupa seonggok kisah cerita dan pengalaman hidup. Memaknai semua yang terjadi dari hal terbesar hingga yang terkecil sekalipun akan terasa mengesankan. Bukankah seribu kilometer perjalanan dimulai dengan satu langkah kecil?

Friday, 2 December 2011

Cerpen : "Guru" Karya Putu Wijaya



Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.


"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!" Taksu mengangguk.

"Betul Pak." Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"


"Ya."